PSIKOLOGI PENDIDIKAN INDONESIA _HEREDITAS & LINGKUNGAN


HEREDITAS DAN LINGKUNGAN



        Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
        Mata Kuliah             :      Psikologi Pendidikan
        Dosen Pengampu     :      Dian Rif’iyati, M.S.I
Oleh  : 
Liya Bahriyatu Najiyah  
  NIM. 2021115260


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2017 


PEMBAHASAN
A.  Hereditas
1.    Pengertian Hereditas
Secara etimologi, hereditas berasal dari bahasa Latin artinya warisan, hal temurun.[1] Warisan yang dimaksud ialah warisan sifat genetik. Warisan genetik memainkan peran penting dalam proses biologis. Proses biologis adalah perubahan dalam tubuh anak. Proses biologis melandasi perkembangan otak, berat dan tinggi badan, perubahan dalam kemampuan bergerak, dan perubahan hormonal di masa puber.[2]
Berdasarkan perspektif Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hereditas adalah penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak.[3] Sifat genetik ini antara lain: bentuk tubuh, inteligensi, bakat, sifat-sifat dan cacat tubuh atau penyakit. Sedangkan menurut kamus psikologi, pengertian hereditas (heredity) yakni totalitas sifat-sifat karakteristik yang dibawa atau dioper dari orang tua ke anak keturunannya.[4] Jadi, hereditas merupakan potensi yang diwariskan orang tua kepada anaknya.
Secara terminologi, pengertian hereditas menurut Whiterington ialah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri dari satu generasi ke generasi lain dengan perantaraan plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[5] Jadi, yang diturunkan atau dipindahkan ialah strukturnya, bukan bentuk-bentuk perilakunya, seperti pola-pola berjalan, berbicara, merasa, berfikir dan mengalami.[6] Sedangkan menurut Purwa Atmaja Prawira, hereditas merupakan kekuatan yang terbawa atau diturunkan dari generasi tua kepada generasi muda melalui perantaraan sel-sel benih, bukan melalui sel-sel somatis atau sel-sel badan.[7]
Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari orang tuanya.[8] Faktor hereditas sering disebut faktor pembawaan atau endogen atau genetik adalah sifat yang dibawa oleh gen yang berasal dari kedua orang tua individu sejak terjadinya konsepsi melalui proses genetik.[9]
Proses genetis individu berawal dari pertemuan 24 kromosom pihak ayah dan 24 kromosom pihak ibu. Kempat puluh delapan kromosom ini bercampur dan berinteraksi membentuk pasangan-pasangan baru. Jadi, perbedaan individu ialah adanya kombinasi-kombinasi kromosom yang mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sifat gen. Dari pertemuan gen tersebut maka terjadilah perubahan sifat hereditas.  Jadi dasar hereditas dari perbedaan individual adalah kombinasi-kombinasi gen yang mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sifat.[10]
Teori hereditas ini pertama kali dikeluarkan oleh Gregor Johan Mendel (1822-1884), ia melakukan percobaan persilangan terhadap berbagai macam tanaman. Dari percobaan itu, Mendel menemukan prinsip-prinsip dasar ilmu pewarisan sifat. Atas jasanya Mendel dikukuhkan sebagai Bapak Genetika.[11]
Tidak hanya terbatas pada tanaman, W. Bateson dan R. Punnet melakukan eksperimen perkawinan silang ayam ras Wyandotte dengan ayam ras Brahma. Thomas Morgan Hunt, penelitian Morgan terhadap lalat hijau ditemukan adanya pola kromoson XX pada lalat jantan dan kromoson XY pada lalat betina.
Eksperimen Morgan dinilai sebagai dasar penelitian genetika modern ini kemudian dikembangkan pada manusia. R. Nilsson Ehle, R. Emerson dan E. East mengadakan penelitian mengenai pengaruh genetika terhadap warna kulit. Penelitiannya menghasilkan temuan, bahwa pembawa sifat tang diturunkan oleh orang tua berpengaruh terhadap warna kulit anak mereka.[12]
Secara biologis, keturunan manusia terbentuk oleh adanya pembuahan (fertilisasi) dari sel spermatozoa pada sel telur (ovum). Sel spermatozoa berasal dari ayah, sedangkan sel ovum dari ibu. Menurut ilmu genetika, persatuan antara sel tersebut menghasilkan sel gamet. Di dalam sel gamet  mengandung unsur-unsur baru yang diwarisi dari kedua orang tuanya.[13]
Kajian genetika pada manusia berlanjut hingga ke unsur gen manusia yang terkecil yaitu deoxyribonnucleit acid (DNA). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa DNA yang berbentuk tangga berpilin itu terdiri atas pembawa sifat yang berisi informasi genetik. Secara garis besarnya, pembawaan sifat turunan itu dapat dibagi menjadi fenotipe dan genotipe. Fenotipe adalah  karakteristik seseorang yang tampak dan dapat diukur seperti warna kulit, warna mata ataupun bentuk fisik. Sedangkan genotipe merupakan keseluruhan faktor bawaan seseorang yang walaupun dapat dipengaruhi lingkungan, namun tidak jauh menyimpang dari sifat dasar yang ada.[14]
Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hereditas adalah persamaan sifat atau kombinasi karakter genetik / sifat biologis yang dibawa oleh anak yang diperoleh dari orang tuanya melalui perantara plasma benih yang terjadi pada saat pembuahan. Hereditas (heredity) sama dengan sifat bawaan atau pembawaan dari lahir yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Apa saja pewarisan sifat genetik atau sifat biologis yang diturunkan orang tua terhadap anaknya?. Jawabannya akan dipaparkan sebagai berikut.
a.        Bentuk Tubuh.
Diantara bentuk tubuh yang diturunkan dari orang tua, seperti: warna kulit, raut muka, bentuk hidung, mata, pendek-tinggi, gemuk-kurus, rambut keriting, rambut lurus dan bentuk jasmani lainnya.
b.        Sifat-Sifat atau Ciri-Ciri Khas.
Berbagai macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya penyabar, pemarah, kikir, pemboros, hemat, murah senyum dan sebagainya.
c.         Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis yang dimiliki seseorang. Biasanya berbentuk keterampilan atau bidang ilmu. Seperti bakat seni musik, suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, sosial dan sebagainya.[15]
d.        Intelegensi
Intelegensi ialah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Intelegensi ini meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.[16]
e.         Penyakit atau Cacat Tubuh.
Beberapa jenis penyakit atau cacat tubuh ada yang berasal dari keturunan, seperti penyakit kebutaan, saraf dan luka tak mau kering (darah terus ke luar).[17]
Cara pendidik mengetahui sifat, intelegensi dan bakat anak di sekolah secara tepat dapat dilakukan dengan melakukan tes kepribadian, tes intelegen, serta informasi yang diperoleh dari orang tuanya mengenai sifat dari anaknya serta melalui nilai raportnya maupun tingkah laku didalam kelasnya. Dengan mengetahui sifat, intelegen dan bakat yang dimiliki anak secara mendalam, akan membantu guru untuk mendidiknya.
Macam-macam pembawaan dan pengaruh keturunan, sebagai berikut.
a.    Pembawaan Jenis
Setiap manusia memiliki pembawaan jenis yaitu bentuk badanya, anggota tubuhnya, intelegensinya, ingatannya dan sebagainya semua menunjukkan ciri yang khas dan berbeda dengan jenis makhluk lain.
b.   Pembawaan Ras
Jenis manusia masih terdapat lagi bermacam-macam pembawaan keturunan, yaitu pembawaan keturunan mengenai ras seperti ras indo jerman, ras Mongolia, ras jawa, ras papua dan lain lain. Masing masing ras itu dapat terlihat perbedaanya satu dengan yang lain.
c.    Pembawaan Jenis Kelamin
Setiap manusia yang lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin masing-masing laki-laki atau perempuan. Pada kedua jenis kelamin itu terdapat pula perbedaan sikap terhadap dunia luar.
d.   Pembawaan Perseorangan
Setiap individu memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang tipikal. Tiap individu meskipun bersamaan ras atau jenis kelaminnya masing masing mempunyai pembawaan watak, sifat dan sebagainya yang berbeda-beda.[18]
2.    Hukum Hereditas atau Prinsip Hereditas
a.    Hukum Reproduksi
Hukum ini mengatakan bahwa hereditas berlangsung dengan perantara sel benih, berarti tidak melalui sel somatis (sel tumbuh). Hukum ini memberi penjelasan bahwa sifat-sifat yang diperoleh orang itu, karena pengalaman-pengalaman hidup tak dapat diturunkan melalui proses-proses biologis kepada anak. Pengalaman orang tua tidak dapat diwariskan secara genetik. Seperti kegagalan, kesuksesan, penyesalan.
b.   Hukum Konformitas
Hukum ini mengatakan bahwa setiap jenis spesies menurunkan jenis spesiesnya sendiri atau setiap golongan makhluk akan menurunkan golongan makhluk itu sendiri. Manusia tidak akan melahirkan makhluk lain yang bukan manusia.
c.    Hukum Variasi
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam satu spesies, di samping adanya ciri-ciri dan sifat-sifat yang menunjukkan persamaan, disamping itu terdapat juga variasi-variasi sifat dan ciri-ciri dimana hal itu menyebabkan adanya perbedaan individu yang satu dengan yang lain. Saudara kembar identik sekalipun tidak ada yang sama persis. 
d.   Hukum Regresi Fisial
Hukum ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri manusia menunjukkan kecenderungan ke arah rata-rata. Jadi anak yang berasal dari orang tua sangat cerdas akan ada kecenderungan untuk menjadi lebih cerdas dari pada orang tuanya atau sebaliknya.[19]
B.  Lingkungan
1.    Pengertian Lingkungan
Berdasarkan perspektif KBBI, lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia.[20] Sejalan dengan pendapat Sartain (ahli psikolog Amerika) bahwa yang dimaksud dengan lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.[21]
Lingkungan yang dimaksud disini ialah segala sesuatu yang ada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan. Dalam pembicaraan pada bagian ini, maka pendidikan dimasukkan juga sebagai faktor lingkungan. Lingkungan ini sebenarnya mencakup segala materil dan stimuli di dalam dan di luar diri individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis maupun sosio-kultural.

a.    Secara Fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi materil jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, sistem saraf, peredaran darah, peranapasan, pencernaan makanan, kelenjar-kelenjar indoktrin, sel-sel pertumbuhan dan kesehatan jasmani.
b.   Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang di terima oleh individu mulai sejak dalam konsepsi kelahiran sampai matinya.  Stimulasi itu misalnya berupa: sifat-sifat “genes”, interaksi “genes” selera, keinginan, perasaan, tujuan-tujuan, minat, kebutuhan, kemauan emosi dan kapasitas intelektual.
c.    Secara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain, pola hidup keluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan, pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk dari lingkungan ini.[22]
Secara garis besarnya lingkungan dapat dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
a.      Lingkungan fisik,
Lingkungan Fisik merupakan lingkungan yang berupa alam.  Misalnya keadaan tanah, keadaan musim dan sebagainya. Lingkungan ini disebut juga Lingkungan non sosial, adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.[23]
b.      Lingkungan sosial,
Lingkungan sosial merupakan lingkungan dimana dalam lingkungan ini ada interaksi antara individu dengan individu lain.[24]
Umumnya lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) keluarga. 2) institusi dan 3) masyarakat.
1)   Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggotanya terdiri atas ayah ibu dan anak-anak. Bagi anak-anak, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang dikenalnya. Jadi kehidupan keluarga menjadi fase pendidikan awal bagi pembentukan karakter anak.
2)   Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi.
3)   Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan tempat tiggal anak. Berbeda dengan lingkungan rumah dan sekolah, umumnya lingkungan masyarakat kurang menekankan pada disipin atau aturan yang harus dipatuhi secara ketat. Meskipun demikian, kehidupan dimasyarakat diatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung oleh masyarakat.[25]

C.    Pengaruh Hereditas dan Lingkungan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan.
Hereditas dan lingkungan merupakan dua faktor yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya sangat berhubungan satu sama lain dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Berikut akan dipaparkan berbagai contoh pengaruh hereditas dan lingkungan.
1.   Bidang pertumbuhan dan perkembangan fisik.
Hereditas: tinggi, bentuk, kerangka, dan struktur badan disebabkan oleh pertumbuhan-pertumbuhan potensi atau sifat-sifat dalam genes.
Lingkungan: segenap pengaruh hereditas itu dapat diganggu oleh lingkungan yang abnormal.
2.   Bidang pertumbuhan dan perkembangan mental.
Hereditas: anak lahir dengan berbagai kapasitas mental, dengan berbagai potensi musik, melukis dan lain-lain.
Lingkungan: lingkungan-lingkungan yang baik dibutuhkan untuk mengembangkan kapasitas mental pada taraf-taraf yang diharapkan.
3.   Hal sikap-sikap, keyakinan dan nilai-nilai.
Hereditas: posisi pandangan hidup sangat bergantung kepada kapasitas-kapasitas pribadi yang dalam batas tertentu adalah diwariskan.
Lingkungan: sikap-sikap, keyakinan, dan nilai-nilai itu kebanyakan berkembang dari kultur dimana seseorang dilahirkan, yang kemudian sangat dipengaruhi oleh ego, pribadi, dan belajar.
D.  Hubungan Hereditas dan Lingkungan
Hubungan antara unsur hereditas dan pengaruh lingkungan akan membentu kepribadian. Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian. itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. Beranjak dari pemahaman tersebut, maka para psikolog cenderung berpendapat bahwa tipologi menunjukan bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik dan bersifat individu yang masing-masing berbeda. Sebaliknya, karakter menunjukan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan pengalamannnya dengan lingkungan.
Dilihat dari pandangan tipologis, kepribadian manusia tidak dapat diubah karena sudah terbentuk berdasarkan komposisi yang terdapat dalam tubuh. Sebaliknya, dilihat dari pendekatan karakterologis, kepribadian manusia dapat diubah dan tergantung dari pengaruh lingkungan masing-masing.[26]
Tidak semua aspek pribadi manusia diwarisi dari orang tuanya. Hal-hal yang tidak diwariskan meliputi beberapa aspek, baik material pertumbuhan fisik maupun mental. Dari sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi orang yang pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas. Akan tetapi keadaan fisik atau mental seperti penyakit, kelelahan, kemiskinan, kegagalan, atau kemalasan adalah tidak diwariskan, melainkan diperoleh dari pendidikan.[27]
Hubungan antara manusia dengan lingkungan dapat dilihat sebagai suatu sistem. Lingkungan merupakan suatu input yang menerpa pada manusia, dan di dalam diri manusia akan diproses masukan lingkungan tersebut. Hasil dari proses dalam diri manusia akan menjadi keluarannya yang berupa tingkah laku. Masukan dari lingkungan yang akan masuk pada manusia dalam psikologi disebut sebagai stimulus.[28]
Hereditas dan lingkungan sama pentingnya, orang dewasa sebaiknya berusaha secara maksimal untuk memberi lingkungan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya agar warisan yang mereka terima bisa berkembang maksimal, sebab meskipun warisan berkualitas tinggi namun lingkungan yang kurang memadai hanya akan menghasilkan individu yang relatif rendah.[29]


PENUTUP

A.    Simpulan
Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tua kepada anak. Hereditas merupakan faktor yang diturunkan langsung oleh orang tua. Faktor hereditas ini tidak bisa direkayasa, karena faktor hereditas ini yang menjadi faktor utama dalam pertumbuhan dan perkembangan individu. Selain hereditas, ada juga faktor lingkungan yang juga berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan individu.
Lingkungan adalah segala materil dan stimuli yang ada di dalam dan di luar diri individu. Faktor lingkungan atau disebut juga faktor eksogen adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ini akan turut andil dalam mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, kepribadian dan karakter seseorang atau individu.
Tidak ada orang hidup semata-mata terpengaruh oleh hereditet atau lingkungan semata. Tidak mungkin jiwa manusia berkembang bila tidak ada kemampuan berkembang, maka untuk bisa berkembang harus ada potensi untuk berkembang walaupun tidak memberi kemungkinan berkembang, maka potensi itu tidak ada kenyataannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia hidup tumbuh dan berkembang karena pengaruh hereditet dan lingkungan.

B.     Saran
Marilah kita berusaha secara maksimal untuk menciptakan lingkungan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya dengan strategi yang tepat, agar warisan hereditas kita bisa berkembang maksimal, sebab meskipun warisan berkualitas tinggi namun lingkungan yang kurang memadai hanya akan menghasilkan individu yang relatif rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Abror, Abd. Rachman, 1993. Psikologi Pendidikan, Cet. IV (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Abu Ahmadi, 1998. Psikologi Umum. Cet. Ke-2. Jakarta: PT Rineka Cipta

Chaplin, James P, 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Dalyono, M., 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Renika Cipta

Djaali, H., 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Hasbullah, 2015. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Cet.12. Jakarta: Rajawali Pers

Iskandar, Zulrizka, 2012. Psikologi Lingkungan: Teori dan Konsep. Bandung: Refika Aditama
Jalaluddin, Psikolgi Agama, Cet. Ke-13, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010

Khodijah, Nyayu, 2014. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press

Kusuma, Rohana, dkk., t.th. Biologi untuk SMA/MA kelas XII. Jakarta: Intan Pariwara,
Mustakim, H., 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Prawira, Purwa Atmaja, 2013. Psikologi dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Purwanto, M. Ngalim, 2010. Psikologi Pendidikan, Cet. XXVIII. Bandung : Remaja Rosda Karya

Santrock, John W., 2010. Psikologi Pendidikan, edisi kedua dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana

Soemanto, Wasty, 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Syah, Muhibbin, 2014. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya
Tim Penyusun, t.th .Kamus Latin-Indonesia. Yogyakarta: Kanisius

Tim Redaksi KBBI, 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-3, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Witherington, H.C., 1991. Psikologi Pendidikan, terjemahan M. Buchori (Jakarta: PT. Rineka Cipta



[1] Tim Penyusun, Kamus Latin-Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, t.th), hlm. 392.
[2] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, edisi kedua dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B.S. (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 41.
[3] Tim Redaksi KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-3, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), hlm., 492.
[4] James P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 225.
[5] H.C. Witherington, Psikologi Pendidikan, terjemahan M. Buchori (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), hlm. 46.
[6] Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, Cet. IV (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 27.
[7] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 87.
[8] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), hlm. 82.
[9] Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2014), hlm. 37.
[10] Wasty Soemanto, Op.Cit., hlm. 80.
[11] Rohana Kusuma, dkk., Biologi untuk SMA/MA kelas XII (Jakarta: Intan Pariwara, t.th), hlm. 84
[12] Jalaluddin, Psikolgi Agama, Cet. Ke-13, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 265.
[13] Ibid., hlm. 91.
[14] Ibid., hlm. 306.
[15] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Renika Cipta, 2001), hlm. 127
[16] Ibid., hlm. 124
[17] Ibid., hlm. 129
[18] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Cet. XXVIII (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2010), hlm. 14-26
[19] H. Mustakim, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 12-20
[20] Tim Redaksi KBBI, Op.Cit., hlm., 831.
[21] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Cet.12 (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 32
[22] Wasty Soemanto, Op.Cit., hlm. 84-85.
[23] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm. 135
[24] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Cet. Ke-2, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998), hlm., 201.
[25] Jalaludin, Op.Cit., hlm., 312-313.
[26] Ibid., hlm. 308-309
[27] H. Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 19
[28] Zulrizka Iskandar, Psikologi Lingkungan: Teori dan Konsep (Bandung: Refika Aditama, 2012), hlm. 42
[29] H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 29



Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOWONGAN KERJA BUMN 2022 BATCH 2 BUKA 1-7 DESEMBER

GENERASI KUAT HEBAT MANFAAT

Rahasia Kebiasaan Orang Orang Kaya Sejak Bangun Pagi hingga Sebelum Sarapan